IKBAL GANTENG ORANG JENEPONTO
Di sebuah desa kecil di pesisir Jeneponto, hiduplah seorang pemuda bernama Iqbal. Wajahnya tampan, senyumnya menawan, tapi yang membuatnya istimewa adalah hatinya yang baik. Dari pagi hingga sore, ia selalu terlihat membantu warga desa: menyeberangkan anak-anak ke sekolah, membantu petani membawa hasil panen, atau sekadar mengobrol dan memberi semangat kepada siapa saja yang bersedih.
Iqbal tinggal bersama neneknya, Nenek Sari, yang sejak kecil mengajarinya nilai-nilai kebaikan, kerja keras, dan keberanian. Nenek Sari selalu berkata, “Iqbal, ganteng itu hanya bonus. Hati yang tulus itulah yang membuat orang mengingatmu.” Iqbal selalu tersenyum, tapi tak pernah melupakan kata-kata neneknya.
Suatu hari, datang kabar bahwa Festival Budaya Jeneponto akan segera digelar. Festival ini terkenal setiap tahun, menghadirkan lomba tarian tradisional, masak-memasak, dan bahkan lomba olahraga tradisional seperti lomba perahu. Iqbal, yang sejak kecil gemar memasak, memutuskan ikut lomba memasak masakan tradisional Jeneponto.
Di hari lomba, desa menjadi ramai. Banyak peserta dari desa sekitar hadir, dan para penonton memadati lapangan. Iqbal, dengan ketenangan khasnya, mulai menyiapkan bahan-bahan. Ia memasak Coto Makassar, masakan tradisional yang menjadi favorit banyak orang. Namun, yang membuatnya berbeda bukan hanya masakannya, tapi caranya bersikap. Ia membantu peserta lain yang kesulitan, menenangkan anak-anak yang gugup, bahkan membuat guyonan kecil yang membuat semua orang tersenyum.
Tak heran, ketika juri mencicipi masakannya, mereka terpana. Iqbal memenangkan lomba dan mendapatkan gelar “Pemuda Teladan Jeneponto”. Orang-orang tak hanya mengagumi masakannya, tapi juga kebaikan dan keramahan hatinya.
Kemenangan itu membuka banyak kesempatan bagi Iqbal. Ia diundang ke kota Makassar untuk mengikuti pelatihan kuliner dan belajar mengembangkan usahanya. Dengan sedikit ragu meninggalkan desa, Iqbal pergi ke kota, membawa doa neneknya dan semangat desa Jeneponto di hatinya.
Di kota, hidup Iqbal tak selalu mudah. Ia harus menyesuaikan diri dengan keramaian, kompetisi yang ketat, dan tantangan baru. Namun, pesona dan kebaikannya membuatnya cepat dikenal. Ia bertemu dengan Milea, seorang gadis yang juga mencintai kuliner. Lina kagum dengan ketulusan Iqbal, bukan hanya kemampuannya memasak. Lambat laun, mereka menjadi teman dekat, belajar satu sama lain, dan berbagi mimpi.
Iqbal pun mulai membuka usaha kecil bernama “Dapoer Iqbal”, menyajikan masakan tradisional dengan sentuhan modern. Usahanya perlahan berkembang, tapi Iqbal tak pernah melupakan desa dan neneknya. Setiap pulang ke Jeneponto, ia selalu mengadakan kelas memasak gratis untuk anak-anak desa, mengajarkan mereka bahwa kerja keras, ketulusan, dan kebaikan hati lebih penting daripada sekadar ketampanan.
Hari demi hari, kisah Iqbal menjadi inspirasi. Bukan hanya soal wajah gantengnya, tapi tentang bagaimana seorang pemuda dari desa kecil bisa menebar kebaikan, menghadapi tantangan, dan tetap rendah hati. Desa Jeneponto kini tidak hanya terkenal karena festivalnya, tapi juga karena Iqbal, pemuda yang membuktikan bahwa ketulusan hati dan kerja keras bisa membuat seseorang dikenang sepanjang masa.
Komentar
Posting Komentar